Rabu, 28 Oktober 2009

Kiat Efektif Mengelola Stres

Hampir setiap orang pernah mengalami stres, entah karena masalah pekerjaan yang bertumpuk dan memerlukan penyelesaian cepat, perubahan posisi jabatan, pindah tempat tinggal, perceraian atau mungkin yang lebih parah lagi, Anda di PHK. Karena stres merupakan hal yang biasa terjadi di sekeliling kita, tak ada salahnya untuk mencari cara bagaimana mengelola stress, sehingga penyakit itu tidak membebani Anda, yang pada akhirnya dapat "meroboh"kan Anda karena stres bisa jadi faktor pemicu stroke.

Lalu hal apakah yang membuat Anda paling stres? Mampu mengindentifikasi penyebab stres merupakan salah satu langkah untuk mengurangi stres itu sendiri. Secara kasat mata, biasanya Anda tahu apa penyebab stres seseorang, seperti ditinggal kekasih, kematian keluarga, teman dekat, perkawinan atau mungkin kehamilan dan banyak hal lainnya.

Penyebab stres yang tidak kasat mata, biasanya ditandai dengan perubahan sikap, sifat atau kebiasaan seseorang, perubahan pola makan dan lainnya. Dan Anda harus ingat bahwa stres biasanya tidak disebabkan oleh satu masalah, tapi oleh beberapa masalah yang mungkin sudah menumpuk atau muncul dalam waktu hampir bersamaan, sehingga tak terselesaikan.

Agar lebih sensitif terhadap keadaan ini, ada beberapa tanda umum yang menandakan bahwa Anda sedang terserang stres, antara lain, Anda merasa sedih yang tidak jelas apa penyebabnya sehingga Anda ingin menangis tanpa tahu apa yang menjadi penyebab air mata mengalir itu.

Tanda lainnya adalah Anda menyantap makanan begitu banyak, padahal Anda sedang tidak lapar. Atau Anda menjadi orang yang super perasa, gampang marah dan menjadi tidak sabar dalam berbagai hal. Anda sulit untuk berkonsentrasi, atau sulit menyelesaikan pekerjaan.

Anda merasa lelah yang berkepanjangan, padahal tidak melakukan pekerjaan ekstra atau berlebihan. Anda terganggu dengan sakit kepala yang sering menyerang. Dan Anda pun mengalami kesulitan untuk memperoleh suasana santai, padahal kesempatan tersebut ada.

Nah jika Anda sudah mengetahui tanda-tanda umum tersebut, berarti Anda harus menghadapi penyebab stres. Karena cara ini adalah cara yang termudah dan termurah untuk dilakukan.

Untuk itu, segera ambil kertas, tuliskan daftar kejadian atau masalah-masalah yang Anda hadapi dan yang mengganggu Anda. Setelah itu, urutkan masalahnya yang disesuaikan dengan skala prioritas penyelesaian. Kemudian carilah jalan penyelesaian yang paling rasional. Jika jalan keluar tersebut tidak dapat Anda selesaikan sendiri, mintalah bantuan teman atau seseorang yang dapat Anda percayai.

Selesai dengan permasalahan pertama, mulailah mencari jalan untuk permasalahan kedua dan seterusnya. Namun tidak menutup kemungkinan, penyelesaian persoalan harus diselesaikan dalam waktu bersamaan. Jika demikian, sekali lagi mintalah pertolongan teman atau pasangan Anda.

Bersama Pasangan

Jika pasangan Anda mengalami stres, tentu saja Anda harus dapat segera mengantisipasi. Karena dampak dari keadaan ini, biasanya Andalah yang langsung terkena masalahnya. Beberapa hal yang patut Anda perhatikan jika pasangan sedang terkena depresi.

Pastinya Anda yang pertama kali terkena dampaknya. Namun bukan berarti Anda juga harus ikut bergabung dengan dia ikut-ikutan depresi ria. Tidak! Anda harus tetap tegar dengan keadaan ini. Anda harus menyelamatkan diri, dengan kekuatan dan ketegaran.

Bagaimana pun juga Anda harus selamat dulu, maksudnya agar Anda dapat menolong pasangan. Jika Anda ikut lemah, bagaimana jadinya? Anda harus membuat hidup Anda lebih bergairah, jika Anda dapat mengekspresikan hal ini, tentu pasangan Anda pun akan terbawa dengan optimisme Anda.

Jangan punya pikiran bahwa ditangan Anda sajalah semua persoalan yang dihadapi pasangan Anda harus diselesaikan. Jangan pula terlalu mendorong agar dia mau ke psikolog atau menyuruhnya segera mencari pekerjaan. Semakin Anda mendorongnya, bisa jadi semakin sulit baginya untuk menuruti saran Anda.

Jangan pernah berpikir untuk menyimpan masalah depresi pasangan Anda sebagai rahasia. Anda akan sulit berhubungan dengan kerabat, saudara dan teman-teman Anda maupun teman pasangan Anda, jika tidak membicarakan masalah itu. Jangan punya pikiran, bahwa depresi pasangan Anda sebagai sesuatu yang memalukan. Meski demikian bukan berarti Anda harus membicarakan kepada siapapun yang belum mengetahuinya. (Tri Wahyuni)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar